
Tidak semua ruang belajar selalu dipenuhi bunyi stetoskop, catatan asuhan keperawatan, atau jadwal praktik yang padat. Ada kalanya, sebuah kampus kesehatan perlu menghadirkan ruang yang lebih tenang: ruang untuk berpikir, merasakan, dan memahami manusia dari sisi yang lebih dalam.
Itulah yang terasa pada Jumat, 23 Januari 2026, ketika Akper Patria Husada Surakarta menggelar kegiatan literasi dan diskusi kreatif bersama penulis novel “Memento Merapi”, yaitu Stefani Sisilia Handoyo, Apt. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa, menjadi momen yang berbeda dari rutinitas kampus sehari-hari.
Bukan seminar yang kaku, bukan pula acara yang formal berjarak. Suasananya justru seperti ngobrol santai, tetapi penuh makna. Seolah kampus ingin berkata: menjadi tenaga kesehatan tidak hanya butuh ilmu, tetapi juga jiwa yang peka dan kreatif.
Sastra dan Kesehatan: Dua Dunia yang Saling Menyapa
Di tengah dunia pendidikan keperawatan yang lekat dengan logika klinis, angka, dan ketepatan prosedur, hadirnya diskusi sastra menjadi semacam “jeda” yang menyegarkan.
Namun kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah pengingat bahwa pasien bukan hanya data, melainkan manusia dengan kisah, emosi, harapan, dan mungkin luka yang sering kali tidak terlihat oleh mata.
Melalui novel “Memento Merapi”, mahasiswa diajak memahami bagaimana sebuah karya sastra mampu membawa pembaca menyelami perasaan, memaknai pengalaman, dan belajar tentang keteguhan manusia saat menghadapi kehilangan maupun perubahan hidup.
Bersama Penulisnya Langsung: Membongkar Proses Kreatif
Dalam diskusi tersebut, Stefani Sisilia Handoyo, Apt. membagikan banyak hal yang jarang terlihat dari sebuah buku yang sudah terbit. Mahasiswa diajak mengulik: bagaimana ide cerita lahir, bagaimana karakter dibangun, bagaimana konflik dirangkai, hingga bagaimana sebuah kisah bisa memiliki makna yang kuat bagi pembaca.
Kegiatan ini terasa lebih istimewa karena mahasiswa tidak hanya membaca karya, tetapi bertemu langsung dengan penciptanya. Mereka bisa bertanya, berdiskusi, bahkan menafsirkan pesan cerita bersama-sama. Ada banyak tawa, ada rasa kagum, dan ada pula momen hening ketika makna-makna dalam novel dibicarakan secara lebih dalam.
Mengasah Kepekaan, Menumbuhkan Kreativitas
Salah satu hal yang menjadi pesan kuat dari kegiatan ini adalah: dunia kesehatan juga butuh kreativitas. Perawat dan tenaga kesehatan bekerja bukan hanya dengan tangan dan pengetahuan, tetapi juga dengan empati. Mereka perlu peka membaca situasi, memahami bahasa tubuh pasien, menguatkan keluarga, dan menjaga harapan di ruang-ruang yang kadang penuh kecemasan.
Sastra, dalam hal ini, hadir sebagai jembatan untuk melatih kepekaan tersebut. Sebab orang yang terbiasa membaca dan memahami cerita, biasanya juga lebih terlatih untuk memahami manusia.
Kampus yang Menghidupkan Ruang Inspirasi
Kegiatan “Mengulik Sisi Kreatif di Balik Penulisan Novel Memento Merapi” menjadi bukti bahwa Akper Patria Husada Surakarta tidak hanya membentuk mahasiswa yang siap secara akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa berkembang secara emosional dan kreatif.
Di akhir kegiatan, satu hal terasa jelas: inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah novel. Dan bagi mahasiswa keperawatan, inspirasi seperti ini bukan hal kecil. Ia bisa menjadi bekal untuk kelak merawat pasien dengan cara yang lebih manusiawi: tidak hanya tepat tindakan, tetapi juga tepat rasa.
Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh, tetapi juga tentang merawat manusia seutuhnya.

